appendisitis acut

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN APPENDICITIS

Pengertian

Peradangan appendix dan bagian sekitarnya. Dapat berupa:

  • Apendisitis akut,
  • Apendisitis kronis
  • Periapendikuler infiltrat,
  • Periapendikuler abses,
  • Apendisitis perforate yang disertai peritonitis lokal, atau
  • Peritonitis umum.

Anamnesis

  • Keluhan nyeri perut terutama kanan bawah, epigastrium atau sekitar pusat.
  • Riwayat panas badan.
  • Kadang disertai mual, muntah.

PemeriksaanFisik

  1. Klinis didapatkan gejala – gejala rangsangan peritoneum dengan pusat didaerah Mc Burney :
  • Nyeri pada tekanan intra abdominal yang naik ( batuk, jalan ).
  • Nyeri tekan dengan defans muskuler.
  • “Rebound phenomen”: menekan perut bagian kiri dan dilepas mendadak, dirasa nyeri pada perut sebelah kanan bawah.
  • “Rovsing sign”: menekan daerah kolon desenden / transversum udara akan menekan sekum hingga timbul sakit.
  • “Tenhorn sign”: menarik testis kanan, timbul nyeri perut kanan bawah.
  • “Psoas sign”: mengangkat tungkai kanan dalam ekstensi, timbul nyeri perut kanan bawah.
  • “Obturator sign”: fleksi dan endorotasi sendi panggul kanan, timbul nyeri perut kanan bawah.

Gejala – gejala diatas tidak semua akan positif.

  1. Panas badan meningkat, kadang disertai muntah.
  2. Colok dubur nyeri pada jam 09.00 – 11.00.
  3. Beda temperature rektal dengan aksiler lebih dari 1 derajat C.
  4. Lekositosis tidak terlalu tinggi ( kurang dari 10.000 / sm3 ).
  5. Pada periapendikuler infiltrate teraba massa yang nyeri tekan pada perut kanan bawah, defans muskuler ( + ).

Kriteria Diagnosis

  1. Anamnesis
  2. Pemeriksaan Fisik
  3. Pemeriksaan Penunjang

Diagnosis Kerja

  • Apendistis akut,
  • Apendisitis kronis
  • Periapendikuler infiltrat,
  • Periapendikuler abses,
  • Apendisitis perforate yang disertai peritonitis lokal, atau
  • Peritonitis umum.

DiagnosisBanding

  1. Gastroenteritis : limfadenitis mesenterik, entero – kolitis, ileitis terminalis.
  2. Kelainan organ-organ pelvis wanita : pecahnya folikel ovarium pada pertengahan siklus menstruasi, keradangan : salfingitis, torsio kista ovarium, kehamilan diluar kandungan ( KET ).
  3. Kelainan saluran air kemih : batu ginjal / ureter, pielonefritis.
  4. Kelainan-kelainan lain di dalam abdomen : tukak peptik, kolesistitis, pankreatitis, diverkulitis, perforasi karsinoma kolon.
  5. Penyakit-penyakit diluar abdomen : pneumonia, pleuritis, infark miokard.

Pemeriksaan Penunjang

  • Pemeriksaan Laboratorium:

Darah Lengkap, Urine Lengkap, Faal Hemostasis.

  • Pemeriksaan Radiologi:

Foto polos abdomen, USG abdomen tidak rutin dilakukan, sesuai indikasi.

  • Pemeriksaan Patologi Anatomi:

Spesimen dari bahan operasi dilakukan fiksasi jaringan sejak dari kamar operasi.

  • Pemeriksaan makroskopis:

Appendiks membesar, udematus, permukaan luar berwarna abu-abu kehitaman, bias didapatkan adanya lubang perforasi.

  • Pemeriksaan mikroskopis:

Potongan jaringan appendiks dengan mukosa erosi sampai ulserasi. Lamina propria sembab, sebukan sel radang limfosit, netrofil, sel plasma, eosinofil, histiosit bias didapatkan dari lapisan mukosa sampai lemak serosa bahkan sampai jaringan periappendiks. Sering tampak proliferasi dan stasis pembuluh darah. Tampak rupture dinding appendiks pada kasus dengan perforasi.

Tata Laksana

Medikamentosa :

  • Analgesik
  • Antibiotik

Operatif :

  • Apendisitis kronis :direncanakan apendiktomi elektif.
  • Apendisitis akut :direncanakan apendiktomi segera.
  • Periapendikuler abses :insisi, drainase.
  • Periapendikuler infiltrate :pertama dirawat konservatif, medikamentosa yang adekuat, bila massa mengecil ukuran < 3 cm atau menghilang, dilakukan apendiktomi dengan insisi paramedian.
  • Apendisitis perforate disertai tanda – tanda peritonitis lokal :dilakukan apendiktomi dengan insisi gradiron atau paramedian.
  • Bila ditemukan tanda – tanda peritonitis umum :dilakukan laparatomi dengan insisi median.

Penyulit

  1. Pembentukan infiltrat, dapat berlanjut dengan pembentukan abses.
  2. Timbul perforasi hingga terjadi peritonitis. Timbul gejala – gejala sepsis dengan febris tinggi dan lekositosis sampai 20.000 / mm3. Morbiditas dan mortalitas menjadi tinggi.
  3. Foieappendiculaire”, terjadi emboli kuman – kuman lewat system porta ke hepar sehingga timbul mikro – mikro abses di hepar. Penderita jatuh dalam keadaan toksis dengan ikterus. Prognosis sangat jelek.
  4. Perlekatan ( Ileus obstruktif )

Edukasi

Menjelaskan tentang diagnosis penyakit, penatalaksanaan, penyulit, dan prognosis.

Prognosis

Diharapkan baik.

IndikatorMedis

  • Indikasi MRS: Semua pasien dengan appendicitis diwajibkan untuk MRS.
  • Indikasi Operasi : (Sesuai Tabel Tatalaksana Operatif)
  • Indikasi KRS : Setelah pasien mendapatkan tindakan pembedahan dilakukan follow up harian di ruang rawat inap, jika gejala klinis membaik hingga pasien dapat melakukan aktivitas harian maka layak untuk perawatan rawat

Diagnosa Keperawatan

  1. Anxietas (D.0080)
  2. Nyeri akut (D.0077)
  3. Nausea (D.0076)
  4. Intoleransi Aktivitas (D
  5. Hipovolemia (D.0023)
  6. Risiko jatuh (D.0143)
  7. Risiko infeksi (D.0141)

Luaran dan Intervensi Keperawatan

Silahkan kunjungi : https://n2ncollection.com

 

Daftar Pustaka

  • Pedoman Penanganan Bahan Pemeriksaan Untuk Histopatologi, IAPI 2008.
  • Pedoman Pelayanan Medik Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia edisi kedua, 2006.
  • Ackerman Surgical Pathology 9th 2005.
  • Sjamsuhidajat R, de Jong Wimed
  • 2: Buku Ajar IlmuBedah : 640-646 2. Williams S Norman, Bulstrode CJK, O’Connel PR : Bailey & Love’s Short Practice of Surgery 25th ed: 1204–1218
  • Tim Pokja SDKI DPP PPNI, (2016), Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia
  • Tim Pokja SLKI DPP PPNI, (2018), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia
  • Tim Pokja SIKI DPP PPNI, (2018), Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia

 

Tags: , , ,