LP tetanus

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN TETANUS

Pengertian

Tetanus adalah penyakit infeksi yang diakibatkan toksin kuman Clostridium tetani, bermanifestasi sebagai kejang otot paroksismal, diikuti kekakuan otot seluruh badan.Tetanus biasanya disebut lockjaw, yaitu suatu gangguan system saraf yang disebabkan oleh suatu neurotoksin yang dihasilkan Clostridium tetani.

Anamnesis

  • Masa inkubasi tetanus berkisar antara 2 – 21 hari.
  • Timbul keluhan biasanya mendadak, didahului ketegangan otot terutama pada rahang dan leher. Kemudian timbul kesukaran membuka mulut, kesukaran menelan, berlanjut kejang otot pada kuduk, dinding perut, sepanjang tulang belakang, anggota.
  • Kejang dengan kesadaran tidak terganggu.
  • Riwayat luka-luka.

Pemeriksaan Fisik

  • Hipertoni dan spasme otot.
  • Trismus, risus sardonikus, otot leher kaku dan nyeri, opistotonus, dinding perut tegang, anggota gerak spstik.
  • Lain-lain : kesukaran menelan, asfiksia dan sianosis, nyeri pada otot-otot di sekitar luka.
  • Kejang tonik dengan kesadaran tidak terganggu.
  • Umumnya ada luka/riwayat luka.
  • Retensi urine dan hiperpireksia.
  • Tetanus local.

Kriteria Diagnosis

  1. Anamnesis
  2. Pemeriksaan Fisik
  3. Pemeriksaan Penunjang

DiagnosisBanding

  1. Kejang karena hipokalsemia
  2. Reaksi distonia
  3. Rabies
  4. Meningoencephalitis
  5. Abses retrofaringeal, abses gigi, subluksasi mandibula
  6. Polio
  7. Peritonitis
  8. Epilepsi/kejang tonik klonik umum

Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan laboratorium:

    Darah Lengkap, SGOT, SGPT, Urea, Serum Kreatinin, Serum Elektrolit, Analisa Gas Darah sesuai indikasi.

2. Pemeriksaan radiologi: thoraks foto.

3. Elektrokardiografi

Tata Laksana

Kausal :

  • Antitoksin tetanus :
  • Serum antitetanus (ATS) diberikan dengan dosis 20.000 IU/hari/i.m selama 3 – 5 hari. Dilakuakn skin test sebelumnya.
  • Human Tetanus Immunoglobulin (HTIG). Dosis 500 – 3.000 IU i.m tergantung beratnya penyakit. Diberikan single dose.
  • Antibiotik :
  • Metronidazole 500 mg/ 8 jam drips i.v
  • Peniciline 1,2juta unit / hari selama 10 hari, i.m. Sedangkan tetanus pada anak dapat diberikan Peniciline dosis 50.000 unit / kgBB/ 12 jam secara i.m diberikan selama 7–10 hari.

Bila alergi terhadap Penisilin dapat diberikan :

  • Eritromisin 500 mg/6 jam/oral, atau
  • Tetrasiklin 500 mg/6jam/oral
  • Penanganan luka : dilakukan cross incision dan irigasi menggunakan H2O2.

Simtomatis dan supportif :

  • Mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit.
  • Diazepam :
  • Setelah masuk rumah sakit, segera diberikan Diazepam dengan dosis 10 mg i.v perlahan 2 – 3 menit. Dapat diulangi bila diperlukan.
  • Dosis maintenance : 10 ampul = 100 mg/ 500 ml cairan infuse (10 – 12 mg/kgBB/hari) diberikan secara drips (syringe pump). Untuk mencegah terbentuknya kristalisasi, cairan dikocok setiap 30 menit.
  • Setiap kejang diberikan bolus Diazepam 1 ampul/i.v perlahan selama 3 – 5 menit, dapat diulangi setiap 15 menit sampai maksimal 3 kali. Bila tak teratasi segera rawat di ICU.
  • Bila penderita telah bebas kejang selama ± 48 jam maka dosis Diazepam diturunkan secara bertahap ± 10% setiap 1 – 3 hari (tergantung keadaan). Segera setelah intake peroral memungkinkan maka Diazepam diberikan peroral dengan frekuensi pemberian setiap 3 jam.
  • Oksigen diberikan bila terdapat tanda-tanda hipoksia, distress pernapasan, sianosis.
  • Mempertahankan/membebaskan jalan nafas : penghisapan lender oro/nasofaring secara berkala.
  • Nutrisi : diberikan TKTP dalam bentuk lunak, saring, atau cair. Bila perlu diberikan melalui pipa nasogastrik.
  • Pemasangan kateter bila terjadi retensi urin.
  • Menghindari tindakan/perbuatan yang bersifat merangsang, termasuk rangsangan suara dan cahaya yang intensitasnya bersifat intermiten.
  • Posisi/letak penderita diubah-ubah secara periodic.

Penyulit

  • Laringospasm
  • Kekakuan otot-otot pernapasan
  • Akumulasi sekresi berupa pneumonia dan atelektase
  • Kompressi fraktur vertebra dan laserasi lidah akibat kejang
  • Rhabdomyolisis dan renal failure

Edukasi

Menjelaskan tentang diagnosis penyakit, penatalaksanaan, penyulit, dan prognosis.

Konsultasi

  • Dokter spesialis bedah umum.
  • Bila ada penyakit penyerta yang lain maka konsultasi ke dokter spesialis terkait, seperti dokter spesialis anestesi, dokter gigi, dokter spesialis THT, dokter spesialis saraf, dan lain-lain.

Prognosis

Angka kematian tinggi bila :

  1. Usia tua
  2. Masa inkubasi singkat
  3. Onset periode yang singkat
  4. Demam tinggi
  5. Spasme yang tidak cepat diatasi

Indikator Medis

  • Indikasi MRS : Semua pasien curiga tetanus sebaiknya dirawat inapkan, bila selama perawatan di ruangan didapatkan Early Warning Score >7  maka dilakukan perawatan ICU
  • Indikasi KRS  : Gejala klinis membaik, pasien dapat melakukan aktivitas harian dengan  baik.

Diagnosa Keperawatan

  • Bersihan jalan nafas tidak efektif
  • Nyeri akut
  • Defisit nutrisi
  • Risiko Aspirasi
  • Risiko cidera

Luaran dan Intervensi keperawatan

Silahkan kunjungi https://n2ncollection.com

DAFTAR PUSTAKA

  • Pedoman Pelayanan Medik Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia edisi kedua, 2006
  • Tim Pokja SDKI DPP PPNI, (2016), Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI),  Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia
  • Tim Pokja SLKI DPP PPNI, (2018), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI),  Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia
  • Tim Pokja SIKI DPP PPNI, (2018), Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI),  Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia

 

Tags: , , ,